• Komplek Multatuli Indah, Kota Medan
  • sales@nusanet.id
  • HelpDesk 24 Jam: (62) 8198-54321
Kabel internet bawah laut

90% Internet Indonesia Melewati Singapura, Haruskah Pengguna WiFi Rumah Khawatir?

Pada 25 Oktober 2026, mantan anggota parlemen Singapura, Calvin Cheng, mengunggah infografis tentang ketergantungan internet Indonesia pada Singapura dengan satu kata tanya “Cut?”. Unggahan itu langsung menyebar dan memancing tanggapan hingga ke tingkat Menteri. Di balik keributannya, ada fakta yang jarang dibicarakan: kabel bawah laut Singapura adalah salah satu penopang utama internet yang kamu pakai setiap hari di rumah, mulai dari streaming dan video call sampai belajar daring.

Polemik Kabel Bawah Laut Singapura

Unggahan Calvin Cheng muncul beberapa hari setelah pemerintah Indonesia mulai memangkas ekspor gas bumi ke Singapura sekitar 31 BBtud atau sekitar 8% dari total 409,55 BBtud sejak 24 Oktober, dalam batas minimum kontak menurut Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia. Infografis yang ia bagikan menyebut sekitar 90% lalu lintas internet internasional Indonesia melewati Singapura. Angka itu bukan karangan, pada Juni 2026, pejabat Komdigi, Denny Setiawan, mengakui ketergantungan yang sama dan membandingkan posisi Selat Malaka dengan Selat Hormuz bagi dunia internet. Cheng kemudian menegaskan bahwa Singapura tidak akan memutus apapun karena menaati hukum, sehingga unggahannya lebih tepat dibaca sebagai pemantik polemik, bukan ancaman resmi.

Menkomdigi, Meutya Hafid, menanggapi dengan mengingatkan bahwa hubungan ini berlaku dua arah. Menurutnya, sebagian besar jalur kabel laut yang mendarat di Singapura justru melewati perairan Indonesia, sehingga bila kabel-kabel itu terganggu, sekitar 80% kapasitas konektivitas Singapura ikut terancam lumpuh. Ia juga menyebut 267 juta orang Indonesia sudah terhubung ke internet, pasar yang membuat perusahaan teknologi global berada di kawasan ini, dan meminta masyarakat tidak cemas. Dari sini terlihat bahwa risiko pemutusan sengaja sangat kecil karena kedua pihak sama-sama rugi. Yang tetap nyata adalah kerentanan struktural: terlalu banyak trafik bertumpu pada satu titik.

Dari Dasar Laut ke Layar Ponselmu

Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) nasional membentang sekitar 131.326 kilometer dan, menurut Komdigi pada September 2026, membawa sekitar 99% lalu lintas data nasional. Ketika kamu membuka aplikasi atau platform dengan server di luar negeri, permintaanmu berjalan dari router ke jaringan ISP, lalu ke gerbang internasional, menyeberangi kabel serat optik di dasar laut, dan kembali lewat rute yang sama. Konten dengan server di dalam negeri tidak perlu menempuh perjalanan ini, sehingga gangguan kabel laut paling terasa pada layanan global seperti cloud, platform video, dan aplikasi berbasis AI.

Yang membuat gangguan kabel laut merepotkan adalah waktu pemulihannya. CEO PT Jala Lintas Media, Victor Irianto, menyebut perbaikan kabel laut yang putus membutuhkan minimal satu hingga tingga bulan, jauh lebih lama daripada gangguan jaringan darat. Kabel yang berusia lebih dari 15 sampai 20 tahun juga mulai mengalami penurunan kinerja bertahap, misalnya delay yang meningkat. Bagi pengguna rumahan, dampaknya biasanya bukan internet mati total, melainkan akses ke layanan luar negeri yang lambat atau tersendat sementara situs dan layanan lokal tetap berjalan. Pengalaman ini sering disalah artikan sebagai masalah di router atau paket langganan, padahal penyebabnya ada jauh dari rumah.

Kabel Bawah Laut Singapura Masih Jadi Muara

Upaya memperkuat jalur sebenarnya terus berjalan. Singapura bukan satu-satunya gerbang internasional Indonesia, karena jalur alternatif juga tersedia melalui Manado, Anyer, Dumai, dan Jakarta. Pada Juli, 2026, kabel Nongsa Changi Cable (NCC) milik Telin bersama DW Digital selesai didaratkan di Batam, dengan panjang sekitar 50 kilometer dan 24 pasang serat optik, sebagai bagian dari ekosistem Indonesia Cable Express bersama INSICA. Pada Oktober 2026, PT Jala Lintas Media juga mengoperasikan kabel INSIGHT sepanjang 1.123 kilometer dengan kapasitas hingga 30 Tbps yang menghubungkan Jakarta, Batam dan Singapura.

Namun, ada catatan penting jika dibaca cermat, NCC dan INSIGHT sama-sama berujung di Singapura. Keduanya menambah jumlah dan keragaman jalur sehingga risiko putus pula alasan jalur seperti INSIGHT, yang menyasar operator telekomunikasi, data center, cloud, dan ISP, bukan konsumen rumah tangga, dibangun sebagai cadangan di tingkat infrastruktur. Mengurangi ketergantungan secara bermakna berarti memperbanyak gerbang tujuan, bukan hanya memperbanyak kabel menuju gerbang yang sama, dan itu proses jangka panjang yang bergantung pada investasi serta kerjasama banyak pihak.

Apa Artinya Bagi WiFi Rumahmu?

Bagi pelanggan rumahan, kabar baiknya adalah ketergantungan ini bukan ancaman yang tiba-tiba memutus internet kamu, dan jalur cadangan yang terus bertambah membuat risiko gangguan berkepanjangan makin kecil. Yang perlu kamu ketahui adalah cara membedakan gejalanya. Jika situs dan aplikasi lokal lancar tetapi layanan luar negeri melambat, kemungkinan gangguan ada di jalur internasional dan bukan di perangkatmu. Jika semuanya lambat, periksa dulu posisi router, jumlah perangkat yang tersambung, dan lakukan restart modem sebelum menghubungi ISP. Pantau juga kanal resmi penyedia internetmu, karena pada gangguan kabel laut yang luas, pemulihan sepenuhnya ditangani di jalur utama.

Memilih penyedia internet rumah yang transparan soal gangguan dan sigap memberi informasi akan sangat membantu di situasi seperti ini. Layanan broadband home Nusanet dapat menjadi salah satu pilihan bagi kamu yang menginginkan koneksi internet rumah yang andal dengan penanganan gangguan yang jelas serta di dukung oleh bantuan helpdesk yang sedia selama 24/7.